PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DI INDONESIA

Wednesday, 22 April 2009 20:59

Oleh: Sukawarsini Djelantik

Kesetaraan gender masih merupakan persoalan di Indonesia. Setelah merdeka selama 64 tahun, posisi perempuan Indonesia masih marginal dibandingkan dengan negara lain. Wajah dunia masih didominasi aktivitas laki-laki. Media massa, misalnya, lebih sering menggambarkandunia dari sudut pandang, pengalaman dan sensitivitas laki-laki. Sayangnya, banyak yang beranggapan bahwa apa yang direpresentasikan media massa merupakan kenyataan dan kebenaran. Bagaimana mungkin keadilan dapat tercapai jika suara dan pendapat perempuan yang merupakan setengah dari populasi dunia terabaikan?

Baik di negara maju maupun di negara berkembang, banyak faktor yang menyebabkan perempuan sering menghadapi kesulitan tambahan untuk mencapai jabatan politik. Indonesia kadangkala dianggap lebih maju dalam kesetaraan gender hanya karena pernah memiliki seorang presiden perempuan. Sesungguhnya, yang paling penting adalah meningkatkan kesempatan pendidikan bagi perempuan, dan lebih jauh lagi mendorong keterlibatan perempuan untuk duduk di posisi-posisi penentu kebijakan. Misalnya, menjadi anggota legislative di parlemen maupun terjun dalam bidang politik dan menduduki jabatan-jabatan strategis seperti menteri, gubernur, atau bupati.

Indikator yang ditetapkan Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals atauMDGs) bagi kesetaraan gender adalah jumlah keterwakilan perempuan dalam parlemen. Angka rata-rata dunia untuk hal ini masih rendah, yaitu sekitar 15%. Proporsi Indonesia bahkan lebih rendah, masing-masing 13% (1992), 9% (2003), dan 11,3% (2004). Jumlah ini sangat jauh dari tuntutan sejumlah aktivis gerakan perempuan, yaitu sebanyak 30%. Padahal Undang-Undang Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum telah mewajibkan Partai Politik untuk sedikitnya memiliki 30% calon legislatif perempuan. Tetapi dalam Dewan Perwakilan Daerah (DPD), lebih dari 30% perempuan yang mencalonkan diri terpilih sebagai anggota DPD. Untuk jabatan-jabatan public di departemen pemerintahan maupun diplomat, angka-angkanya juga tidak signifikan dibandingkan dengan jumlah laki-laki yang menduduki jabatan yang sama.

Oleh karena itu, kesetaraan gender di Indonesia masih menjadi masalah, maka keberadaan Kementerian Pemberdayaan Perempuan masih perlu dipertahankan. Sebetulnya, posisi kementerian ini cukup strategis sebagai pembuat kebijakan yang mengarusutamakan gender. Keberadaan kementerian ini juga didukung sepenuhnya oleh program Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang menitikberatkan pada pembangunan manusia.

Mendorong Kesetaraan Pemberdayaan Perempuan Di Indonesia

Dalam bidang pendidikan, Indonesia telah mencapai kemajuan dalam mencapai kesetaraan dan keadilan gender. Buktinya partisipasi pendidikan dan tingkat melek aksara penduduk perempuan dibandingkan dengan penduduk laki-laki semakin tinggi. Keberhasilan lainnya adalah meningkatnya kontribusi perempuan dalam sektor nonpertanian. Untuk mempertahankan posisi ini, target yang berusaha dicapai Indonesia adalah menghilangkan ketimpangan gender di tingkat pendidikan dasar dan lanjutan pada 2005 dan di semua jenjang pendidikan sampai 2015.

Dalam sepuluh tahun terakhir sejak 1997, jumlah perempuan yang bersekolah telah mengejar jumlah laki-laki. Sekitar 15% remaja yang beranjak dewasa, baik laki-laki maupun perempuan, telah mendapatkan pendidikan tinggi. Kemajuan yang dicapai anak perempuan juga terlihat dalam hal tingkat melek huruf. Tahun 2006 tingkat melek huruf 91,5% untuk laki-laki dan 88,4% untuk perempuan. Ini karena di masa lalu lebih sedikit anak perempuan yang bersekolah, tetapi sekarang situasinya berubah. Bagi penduduk berusia 15-24 tahun, tingkat melek huruf baik untuk laki-laki dan perempuan hampir mendekati 100%.

Pemerintah telah melaksanakan berbagai kebijakan untuk meningkatkan akses perempuan mendapatkan pendidikan yang lebih berkualitas. Salah satu program nyata adalah penerapan kebijakan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun. Program ini menurunkan secara signifikan jumlah penduduk yang buta aksara dan peningkatan keadilan dan kesetaraan pendidikan antarkelompok masyarakat termasuk kesetaraan gender. Kebijakan ini untuk meningkatkan kualitas hidup dan memberikan perlindungan perempuan dalam bidang pendidikan, kesehatan, hukum, ketenagakerjaan, sosial, politik, lingkungan hidup, dan ekonomi.

Program lain adalah memperkuat kelembagaan pengarusutamaan gender terutama di tingkat kabupaten dan kota. Meskipun demikian, dalam praktiknya perlu dianalisis lebih mendalam. Contoh ketimpangan atau ketidaksetaraan misalnya dalam keberadaan guru dan pelajaran. Di sekolah dasar, terdapat lebih banyak guru perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Namun, jumlah laki-laki yang menjadi kepala sekolah, misalnya, empat kali lipat dibandingkan dengan perempuan.

Target Pembangunan Milenium melihat hal ini dengan membandingkan jumlah laki-laki dan perempuan yang bekerja di “pekerjaan upahan non-pertanian”. Jika laki-laki dan perempuan dipekerjakan secara setara pada jenis pekerjaan ini, perbandingannya haruslah 50%, tetapi dalam kenyataannya perempuan menempati sekitar 33,5%. Proporsi penduduk dewasa dalam angkatan kerja juga terdapat ketidaksetaraan, misalnya, laki-laki 86% dan perempuan 49% (2004). Selain kurang mendapatkan lapangan pekerjaan, perempuan juga cenderung mendapatkan pekerjaan tidak sebaik laki-laki. Di pabrik-pabrik industri tekstil, pakaian dan alas kaki, misalnya, banyak perempuan muda yang bekerja dengan upah rendah, sering kali dengan penyelia laki-laki.

Uraian di atas menunjukkan bahwa masih jauh perjalanan yang perlu ditempuh perempuan Indonesia untuk mencapai kesetaraan dengan laki-laki.

3 Trik Sukses Mengelola Keuangan Keluarga

Astaga!HidupGaya – Hidup berumah tangga memang tak mudah, selain mengurus suami dan anak, tentunya sebagai istri Anda juga harus mengurus pengeluaran untuk semua kebutuhan keluarga. Lalu bagaimana rahasianya agar sukses mengelola keuangan keluarga sehingga tak terjadi besar pasak daripada tiang? Coba deh tips-tips berikut..

  1. Buatlah Perencanaan

Bila pasangan sudah memberikan uang dan memercayakan urusan rumah tangga sepenuhnya pada Anda, ada baiknya Anda melakukan perencanaan yang matang sambil tidak lupa berdiskusi dengan pasangan. Rencanakan segala kebutuhan dan alokasikan dana sesuai dengan kebutuhan.

Ada baiknya semua rencana ditulis dalam catatan penting, sehingga benar-benar fokus pada apa saja yang harus dibeli. Rencana jangka pendek, tentunya harus berkaitan dengan kebutuhan saat ini, antara lain, biaya hidup sehari-hari hingga keperluan sekolah anak-anak.

Selain rencana jangka pendek, jangan pernah Anda melupakan rencana jangka panjang. Hal tersebut dapat Anda wujudkan dalam bentuk tabungan ataupun aset produktif. Sesedikit apa pun dana rumah tangga Anda, jangan pernah lupa untuk menyisihkan untuk tabungan. Jika perlu, sebelum Anda mengalokasikan dana untuk kebutuhan rumah tangga, sisihkan terlebih dahulu untuk tabungan. Investasi berupa tabungan atau perhiasan (emas), dapat Anda jadikan pilihan. Mengupayakan untuk membuat tabungan sekalipun jumlahnya sangat kecil akan sangat menguntungkan. Budaya menabung, perlu disampaikan kepada anak-anak di rumah, agar mereka bisa hemat.

  1. Berbagi Tugas Dengan Pasangan

Hal yang perlu diperhatikan oleh pasangan suami istri adalah pembagian tugas. Mengelola keuangan dalam rumah tangga harus dibicarakan secara kompak. Jika suami memberikan semua penghasilan kepada Anda, sebaiknya jadwal belanja bulanan disepakati bersama dan menjadi prioritas. Selebihnya, kembalikan kepada suami untuk keperluannya, dan dari sana siapkan dana untuk investasi. Berapa jumlah tabungan yang akan dikeluarkan dari penghasilan harus diperinci secara jelas.

Bila Anda mengatur keuangan belanja, ada baiknya pasangan diberi tanggung jawab dalam urusan tabung menabung untuk kepentingan sekolah dan lain sebagainya. Setiap persoalan yang timbul dari pembagian tugas ini perlu dibicarakan secara jelas dan harus saling terbuka. Tidak boleh ada rasa saling curiga dan hendaknya bisa diselesaikan bersama-sama pula.

  1. Siasati Pengeluaran Ekstra

Setelah selesai dengan perencanaan keuangan, ada baiknya Anda juga menghitung pengeluaran ekstra yang diperlukan untuk rekreasi keluarga, keperluan makan di luar rumah, biaya perjalanan akhir tahun atau anggaran berkunjung ke rumah keluarga yang jauh. Dalam hal ini, pengeluaran perlu diatur sedemikian rupa, tetapi tetap tidak boleh mengurangi keperluan rumah tangga setiap bulannya.

Memang, tidak semua rumah tangga memiliki gaya dan pola yang sama dalam hal pengaturan dan sistem pengeluaran keuangan. Tetapi, paling tidak, dengan perencanaan ini akan semakin mudah menata manajemen keuangan rumah tangga. Ini akan bermanfaat untuk masa sekarang dan masa datang. Hemat, bukan berarti pelit.

Konsekuensinya adalah, apakah pantas dan mendesak membeli sesuatu? Apakah berguna dan tidak boros jika setiap hari harus makan di cafe? Banyak hal yang perlu dipertimbangkan dalam pengeluaran. Sekalipun harus membantu anggota keluarga yang sedang kesusahan, semua itu harus dilakukan tanpa mengorbankan kebutuhan keluarga.

Nah, jika Anda telah berhasil mengatur keuangan rumah tangga Anda dengan baik, jangan lupa untuk menjalankannya secara konsisten. Dengan langkah seperti ini niscaya Anda akan memetik hasilnya di hari tua Anda.

PENYEBAB DAN FAKTOR RESIKO KETERLAMBATAN BICARA

Dr Widodo Judarwanto SpA

CHILDREN ALLERGY CLINIC
PICKY EATERS CLINIC (Klinik kesulitan makan)

Penyebab gangguan bicara dan bahasa sangat banyak dan luas, semua gangguan mulai dari proses pendengaran, penerus impuls ke otak, otak, otot atau organ pembuat suara. Adapun beberapa penyebab gangguan atau keterlambatan bicara adalah gangguan pendengaran, kelainan organ bicara, retardasi mental, kelainan genetik atau kromosom, autis, mutism selektif, keterlambatan fungsional, afasia reseptif dan deprivasi lingkungan. Deprivasi lingkungan terdiri dari lingkungan sepi, status ekonomi sosial, tehnik pengajaran salah, sikap orangtua. Gangguan bicara pada anak dapat disebabkan karena kelainan organik yang mengganggu beberapa sistem tubuh seperti otak, pendengaran dan fungsi motorik lainnya.

Beberapa penelitian menunjukkan penyebab ganguan bicara adalah adanya gangguan hemisfer dominan. Penyimpangan ini biasanya merujuk ke otak kiri. Beberapa anak juga ditemukan penyimpangan belahan otak kanan, korpus kalosum dan lintasan pendengaran yang saling berhubungan. Hal lain dapat juga di sebabkan karena diluar organ tubuh seperti lingkungan yang kurang mendapatkan stimulasi yang cukup atau pemakaian 2 bahasa. Bila penyebabnya karena lingkungan biasanya keterlambatan yang terjadi tidak terlalu berat.
Terdapat 3 penyebab keterlambatan bicara terbanyak diantaranya adalah retardasi mental, gangguan pendengaran dan keterlambatan maturasi. Keterlambatan maturasi ini sering juga disebut keterlambatan bicara fungsional.

Keterlambatan bicara fungsional merupakan penyebab yang cukup sering dialami oleh sebagian anak. Keterlambatan bicara fungsional sering juga diistilahkan keterlambatan maturasi atau keterlambatan perkembangan bahasa. Keterlambatan bicara golongan ini disebabkan karena keterlambatan maturitas (kematangan) dari proses saraf pusat yang dibutuhkan untuk memproduksi kemampuan bicara pada anak. Gangguan ini sering dialami oleh laki-laki dan sering tedapat riwayat keterlambatan bicara pada keluarga. Biasanya hal ini merupakan keterlambatan bicara yang ringan dan prognosisnya baik. Pada umumnya kemampuan bicara akan tampak membaik setelah memasuki usia 2 tahun. Terdapat penelitian yang melaporkan penderita keterlambatan ini kemampuan bicara saat masuk usia sekolah normal seperti anak lainnya.

Dalam keadaan ini biasanya fungsi reseptif sangat baik dan kemampuan pemecahan masalah visuo-motor anak dalam keadaan normal. Anak hanya mengalami gangguan perkembangan ringan dalam fungsi ekspresif: Ciri khas lain adalah anak tidak menunjukkan kelainan neurologis, gangguan pendengaran, gangguan kecerdasan dan gangguan psikologis lainnya.

Bahasa berkembang dipengaruhi faktor internal dan eksternal yang secara komprehensif membangun kemampuan berkomunikasi anak.

Faktor Internal (faktor biologis)

Persepsi
Kemampuan membedakan informasi yang masuk disebut persepsi. Persepsi berkembang dalam 4 aspek : pertumbuhan, termasuk perkembangan sel saraf dan keseluruhan sistem; stimulasi, berupa masukan dari lingkungan meliputi seluruh aspek sensori; kebiasaan, yang merupakan hasil dari skema yang sering terbentuk. Kebiasaan, habituasi, menjadikan bayi mendapat stimulasi baru yang kemudian akan tersimpan dan selanjutnya dikeluarkan dalam proses belajar bahasa anak. Secara bertahap anak akan memperlajari stimulasi-stimulasi baru mulai dari raba, rasa, penciuman kemudian penglihatan dan pendengaran. 2
Pada usia balita, kemampuan persepsi auditori mulai terbentuk pada usia 6 atau 12 bulan, dapat memprediksi ukuran kosa kata dan kerumitan pembentukan pada usia 23 bulan.2,34 Telinga sebagai organ sensori auditori berperan penting dalam perkembangan bahasa. Beberapa studi menemukan gangguan pendengaran karena otitis media pada anak akan memganggu perkembangan bahasa.36,37
Sel saraf bayi baru lahir relatif belum terorganisir dan belum spesifik. Dalam perkembangannya, anak mulai membangun peta auditori dari fonem, pemetaan terbentuk saat fonem terdengar. Pengaruh bahasa ucapan berhubungan langsung terhadap jumlah kata-kata yang didengar anak selama masa awal perkembangan sampai akhir umur pra sekolah.2

Kognisi
Anak di usia ini sangat aktif mengatur pengalamannya ke dalam kelompok umum maupun konsep yang lebih besar. Anak belajar mewakilkan, melambangkan ide dan konsep. Kemampuan ini merupakan kemampuan kognisi dasar untuk pemberolehan bahasa anak.2,38

Beberapa teori yang menjelaskan hubungan antara kognisi dan bahasa : 2,3
1. Bahasa berdasarkan dan ditentukan oleh pikiran (cognitive determinism)
2. Kualitas pikiran ditentukan oleh bahasa (linguistic determinism)
3. Pada awalnya pikiran memproses bahasa tapi selanjutnya pikiran dipengaruhi oleh bahasa.
4. Bahasa dan pikiran adalah factor bebas tapi kemampuan yang berkaitan.

Sesuai dengan teori –teori tersebut maka kognisi bertanggungjawab pada pemerolehan bahasa dan pengetahuan kognisi merupakan dasar pemahaman kata.

Prematuritas
Peters (1997)9, Tomblin (1997)39, Weindrich (2000)40 dan Yliherva (2001)41 menemukan adanya faktor-faktor yang berhubungan dengan prematuritas yang mempengaruhi perkembangan bahasa anak, seperti berat badan lahir, Apgar score, lama perawatan di rumah sakit, bayi yang iritatif, dan kondisi saat keluar rumah sakit.

Alergi dan gangguan saluran cerna (GER)
Widodo Judarwanto melaporkan dalam penelitian pendahuluan bahwa penderita alergi makanan yang disertai gangguan saluran cerna khususnya gangguan muntah astau GER (Gastrooesephageal refluks) ternyata beresiko membuat gangguan perkembangan oral motor dan bicara pada anak

Faktor Eksternal (Faktor Lingkungan)

Lingkungan verbal
Lingkungan verbal mempengaruhi proses belajar bahasa anak. Anak di lingkungan keluarga profesional akan belajar kata-kata tiga kali lebih banyak dalam seminggu dibandingkan anak yang dibesarkan dalam keluarga dengan kemampuan verbal lebih rendah. 35,42

Riwayat keluarga
Demikian pula dengan anak dalam keluarga yang mempunyai riwayat keterlambatan atau gangguan bahasa beresiko mengalami keterlambatan bahasa pula. 41,42 Riwayat keluarga yang dimaksud antara lain anggota keluarga yang mengalami keterlambatan berbicara, memiliki gangguan bahasa, gangguan bicara atau masalah belajar. 4,43

Pendidikan
Studi lainnya melaporkan juga ibu dengan tingkat pendidikan rendah merupakan faktor resiko keterlambatan bahasa pada anaknya. 39,40,44,45,46

Jumlah anak
Yliherva (2001) 41 dan Chouhury (2003) 46 menemukan bahwa jumlah anak dalam keluarga mempengaruhi perkembangan bahasa seorang anak, berhubugan dengan intensitas komunikasi antara orang tua dan anak.

Pola asuh
Law dkk juga menemukan bahwa anak yang menerima contoh berbahasa yang tidak adekuat dari keluarga, yang tidak memiliki pasangan komunikasi yang cukup dan juga yang kurang memiliki kesempatan untuk berinteraksi akan memiliki kemampuan bahasa yang rendah.